SDN 2 Muara Ciujung Timur

Tips Ampuh Mengatasi Kebiasaan Menunda PR dan Melatih Tanggung Jawab Siswa

Tips Ampuh Mengatasi Kebiasaan Menunda PR dan Melatih Tanggung Jawab Siswa

Loading

SDN2MCT – “Andi, kerjakan PR-mu sekarang!” “Iya Bu, nanti dulu. Masih sore kok.” … Dua jam kemudian … “Andi, sudah malam, ayo kerjakan!” “Sebentar lagi Bu, nanggung nih kartunnya belum habis.”

Akhirnya, drama terjadi pukul 9 malam. PR dikerjakan dengan penuh air mata, omelan, bentakan, dan ujung-ujungnya: Ibunya yang mengerjakan separuh PR-nya karena tidak tega melihat anak mengantuk. Esok harinya, siklus yang sama terulang kembali.

Melelahkan, bukan? Kami di SDN 2 Muara Ciujung Timur percaya bahwa PR (Pekerjaan Rumah) sesungguhnya bukan sekadar alat penilaian akademik. PR adalah alat latihan Tanggung Jawab dan Manajemen Waktu. Jika sejak SD anak terbiasa menunda (prokrastinasi) dan mengandalkan “bantuan darurat” orang tua, kebiasaan ini akan terbawa hingga SMP, SMA, bahkan dunia kerja.

Mengapa Anak Suka Menunda? (Bukan Sekadar Malas)

Label “Pemalas” seringkali kurang tepat. Anak menunda tugas biasanya karena beberapa alasan psikologis:

  1. Tugas Terlihat “Raksasa”: Melihat tumpukan 10 soal Matematika atau tugas mengarang 3 paragraf terasa sangat berat dan menakutkan bagi otak anak. Reaksi alaminya adalah menghindar (flight).
  2. Takut Salah (Perfeksionis): Ada anak yang takut sekali tulisannya jelek atau jawabannya salah, sehingga ia enggan memulai.
  3. Kelelahan Mental: Setelah seharian sekolah, otak anak juga butuh istirahat. Memaksa belajar non-stop tanpa jeda justru menurunkan produktivitas.
  4. Distraksi Lingkungan: Ada TV menyala, ada HP berbunyi, ada mainan berserakan.
Buat Kamu  Menuju Sekolah Digital: Strategi Literasi Teknologi di SDN 2 Muara Ciujung Timur
Tips Ampuh Mengatasi Kebiasaan Menunda PR dan Melatih Tanggung Jawab Siswa
Tips Ampuh Mengatasi Kebiasaan Menunda PR dan Melatih Tanggung Jawab Siswa

Strategi 1: Teknik “Potong Kue” (Chunking)

Bayangkan jika Anda dipaksa memakan satu loyang kue tart utuh sekaligus. Pasti mual. Tapi jika dipotong kecil-kecil, rasanya enak. Terapkan prinsip ini pada belajar anak:

  • Jangan suruh: “Kerjakan semua PR-mu sekarang!” (Terlihat menakutkan).
  • Coba suruh: “Kerjakan nomor 1 sampai 3 dulu, yuk. Setelah itu boleh istirahat 5 menit minum susu.” Memecah tugas besar menjadi tugas-tugas kecil membuat beban terasa lebih ringan dan achievable (bisa dicapai). Rasa sukses menyelesaikan 3 soal akan memicu semangat untuk menyelesaikan 3 soal berikutnya.

Strategi 2: Manajemen Waktu dengan Teknik Pomodoro Sederhana

Rentang fokus anak SD itu pendek (rata-rata usia x 2 menit). Memaksa belajar 1 jam nonstop itu menyiksa dan tidak efektif. Gunakan timer di HP atau jam dapur:

  • 20 Menit Belajar Serius: Tidak boleh pegang mainan/HP.
  • 5 Menit Istirahat: Minum, regangkan badan, ke toilet (jangan main HP saat istirahat ini).
  • Ulangi. Saat anak tahu ada “ujung” dari waktu belajarnya (bunyi timer), mereka akan lebih rela untuk mulai bekerja karena mereka tahu penderitaan ini ada batasnya.

Strategi 3: Kenali Gaya Belajar Anak

Mungkin anak Anda “malas” membaca buku teks, tapi sangat cepat paham jika dijelaskan lewat gambar atau video.

  • Visual: Bantu belajar dengan spidol warna-warni, mind map, atau video pembelajaran.
  • Auditori: Minta anak membaca soal dengan suara keras, atau Anda bacakan soalnya.
  • Kinestetik: Anak tipe ini tidak bisa duduk diam. Izinkan mereka menghafal sambil berjalan-jalan, atau belajar berhitung menggunakan benda nyata (kelereng/buah). Jangan paksa mereka duduk patung.

Strategi 4: Lingkungan yang Mendukung (No Distraction)

Susah meminta anak fokus mengerjakan PR di depan TV yang menyala dengan tayangan seru. Ciptakan “Pojok Belajar” di rumah. Tidak perlu mewah atau ruangan khusus. Cukup satu meja kecil yang:

  • Bersih dari mainan saat jam belajar.
  • Pencahayaannya cukup terang (agar mata tidak lelah/mengantuk).
  • Jauh dari suara TV.
Buat Kamu  Anak Mengamuk Saat HP Diambil? Ini Solusi "Detox" Gadget Tanpa Drama untuk Wali Murid SDN 2 Muara Ciujung Timur

Strategi 5: Konsekuensi Alami (The Hardest Part)

Ini adalah tips yang paling berat bagi orang tua yang “tidak tegaan”. Apa yang harus dilakukan jika anak tetap menolak mengerjakan PR meski sudah diingatkan berkali-kali? Jawabannya: Biarkan. Biarkan dia berangkat ke sekolah tanpa PR. Biarkan dia menghadapi konsekuensi di sekolah (ditegur guru, tidak dapat nilai, atau harus mengerjakan saat istirahat).

Rasa tidak nyaman, rasa malu, dan kerugian itu adalah guru terbaik. Jika orang tua selalu menjadi “pahlawan kesiangan” yang menyelamatkan anak (mengerjakan PR-nya, mengantarkan buku yang tertinggal), anak tidak akan pernah belajar bahwa kelalaian memiliki konsekuensi.

Checklist Harian untuk Melatih Kemandirian Tempel ini di kamar anak:

  1. [ ] Pulang sekolah: Letakkan sepatu di rak.
  2. [ ] Ganti baju seragam, taruh di keranjang kotor.
  3. [ ] Makan siang & Istirahat.
  4. [ ] Cek buku penghubung/Grup WA: Ada PR apa?
  5. [ ] Siapkan tas & buku untuk besok malam ini juga.

Kesimpulan Mengubah anak yang terbiasa dituntun menjadi anak yang mandiri tidak bisa terjadi dalam semalam. Butuh proses, kesabaran, dan konsistensi orang tua. Rayakan kemajuan kecil. Jika hari ini dia berinisiatif mengambil buku tanpa disuruh (walau belum dikerjakan), puji inisiatifnya. Itu adalah benih tanggung jawab yang sedang tumbuh. Mari kita sirami terus di SDN 2 Muara Ciujung Timur.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *