![]()
SDN2MCT – Bayah, 29 Oktober 2025. Perjalanan panjang melintasi rute selatan Kabupaten Lebak akhirnya terbayar lunas. Lelah dan ketegangan yang dirasakan selama perjalanan dari Rangkasbitung menuju Kecamatan Bayah seolah sirna seketika saat pengumuman pemenang dibacakan.
SDN 2 Muara Ciujung Timur kembali membuktikan kualitasnya di panggung tertinggi daerah. M. Raska Al Ghifari, sang “Mutiara dari Timur”, berhasil mengukuhkan dirinya sebagai salah satu talenta suara emas terbaik di Bumi Multatuli dengan meraih Juara 2 Lomba Ngawih pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kabupaten Lebak Tahun 2025.
Event yang digelar di SMPN 1 Bayah pada Rabu (29/10/2025) ini bukanlah kompetisi sembarangan. Ini adalah “medan pertempuran” seni dan budaya paling bergengsi bagi siswa sekolah dasar se-Kabupaten Lebak.
Daftar isi
“Neraka” Kompetisi: Menyisihkan Puluhan Pesaing Terbaik
Meraih Juara 2 di tingkat kecamatan itu biasa, tetapi meraih Juara 2 di tingkat Kabupaten dengan 96 peserta adalah pencapaian luar biasa yang membutuhkan mental baja.
Bayangkan tekanannya. Raska harus bersaing melawan juara-juara perwakilan dari 28 kecamatan di Kabupaten Lebak. Sebanyak 96 talenta terbaik berkumpul di Bayah, masing-masing membawa ambisi untuk mengharumkan nama sekolah dan wilayahnya.
Di tengah atmosfer kompetisi yang sangat ketat di SMPN 1 Bayah, Raska tampil tenang. Konsistensi adalah kunci. Jika di tingkat kecamatan ia tampil percaya diri, di tingkat kabupaten ia tampil dengan kematangan teknik yang lebih, seolah tidak terintimidasi oleh panggung besar dan dewan juri profesional yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan.
Suara merdunya yang khas, penguasaan lirik bahasa Sunda yang fasih, serta ekspresi wajah yang menjiwai setiap bait lagu (wirasa), sukses memukau hadirin. Raska berhasil mengungguli 94 peserta lainnya, sebuah bukti bahwa kualitas pembinaan seni di SDN 2 Muara Ciujung Timur mampu bersaing di level teratas.

Misi Besar Revitalisasi Bahasa Daerah
Kemenangan ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar trofi perak. Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak menyelenggarakan FTBI di wilayah selatan (Bayah) sebagai upaya pemerataan semangat Revitalisasi Bahasa Daerah.
Di era gempuran gawai dan konten asing, Bahasa Sunda—khususnya dialek Banten—mulai tergerus. Ajang seperti FTBI adalah benteng pertahanan terakhir.
Dengan Raska berdiri di podium juara, ia secara tidak langsung telah menjadi duta pelestarian budaya. Ia membuktikan kepada teman-teman seusianya (Generasi Alpha) bahwa menyanyikan lagu daerah itu keren, membanggakan, dan bisa menjadi jalan prestasi. Ini adalah implementasi nyata dari pendidikan karakter yang menekankan cinta tanah air dan kearifan lokal.
Dedikasi Tanpa Batas: Dukungan Langsung Kepala Sekolah
Faktor “X” di balik keberhasilan siswa sering kali terletak pada dukungan moral pemimpin sekolah. Dalam perhelatan di Bayah ini, Kepala SDN 2 Muara Ciujung Timur, Ibu Hj. Mutasiah, M.Pd, tidak sekadar melepas siswa di gerbang sekolah.
Beliau hadir langsung, menempuh perjalanan jauh ke Bayah untuk mendampingi Raska. Kehadiran beliau di sisi panggung memberikan rasa aman dan motivasi tambahan bagi Raska untuk tampil lepas tanpa beban.
“Alhamdulillah, rasa lelah perjalanan terbayar dengan rasa bangga yang luar biasa. Raska telah berjuang sangat keras. Meraih Juara 2 di antara hampir seratus peserta terbaik se-Kabupaten Lebak adalah pencapaian yang tidak mudah. Piala ini adalah sumbangsih Raska untuk nama baik sekolah,” ungkap Ibu Hj. Mutasiah dengan mata berbinar pasca pengumuman juara.
Beliau menambahkan bahwa prestasi ini diharapkan menjadi efek bola salju. “Saya ingin anak-anak lain melihat Raska dan berpikir: ‘Kalau Raska bisa, saya juga bisa’. Tidak harus di menyanyi, bisa di matematika, olahraga, atau agama. Intinya adalah keberanian untuk berkompetisi,” tambah beliau.
SDN 2 Muara Ciujung Timur: Sekolah Para Juara
Raihan Juara 2 Tingkat Kabupaten ini menambah deretan panjang lemari prestasi SDN 2 Muara Ciujung Timur di tahun 2025. Sekolah ini semakin menegaskan posisinya bukan hanya sebagai tempat belajar akademik, tetapi sebagai inkubator bakat.
Komitmen sekolah dalam mendukung pengembangan diri siswa—mulai dari penyediaan pelatih, fasilitas, hingga dukungan moral saat lomba—terbukti efektif mencetak generasi yang kompetitif.
Terima kasih, Raska Al Ghifari. Terima kasih telah membawa pulang kebanggaan dari Bayah ke Muara Ciujung Timur. Suaramu adalah bukti bahwa budaya Sunda akan tetap lestari di tangan generasi muda yang tepat.
Teruslah berkarya, Sang Juara!



