![]()
SDN2MCT – Lebak, 6 Oktober 2025. Pagi itu, suasana upacara bendera dan apel pagi di SDN 2 Muara Ciujung Timur terasa berbeda dari biasanya. Di tengah barisan para guru yang mengenakan seragam dinas harian, tampak hadir sosok berseragam cokelat kepolisian yang berdiri tegap namun ramah.
Kehadiran IPDA Indra Marsiadi, selaku Kaurbinops (KBO) Satlantas Polres Lebak, bukan untuk melakukan penindakan hukum, melainkan membawa misi humanis melalui program “Polisi Sahabat Anak“. Disambut langsung oleh Kepala Sekolah, Ibu Hj. Mutasiah, M. Pd, kunjungan ini menjadi momen strategis dalam menyelaraskan pendidikan karakter di sekolah dengan kesadaran hukum sejak dini.

Kunjungan IPDA Indra Marsiadi ke SDN 2 Muara Ciujung Timur: Sosialisasi Korlantas dan Silaturahmi Penuh Makna
Daftar isi
Mengapa Polisi Masuk Sekolah? (Membangun Trust & Authority)
Bagi sebagian anak, sosok polisi mungkin masih identik dengan rasa takut atau hukuman. Namun, persepsi inilah yang ingin diubah oleh SDN 2 Muara Ciujung Timur bekerja sama dengan Polres Lebak.
Kehadiran IPDA Indra Marsiadi di tengah-tengah ratusan siswa SDN 2 Muara Ciujung Timur memiliki dimensi psikologis yang dalam. Dalam teori pendidikan karakter, kehadiran figur otoritas penegak hukum yang berinteraksi secara lembut dan edukatif dapat menumbuhkan rasa hormat (respect) alih-alih rasa takut (fear).
“Kami ingin anak-anak melihat polisi sebagai pelindung, pengayom, dan sahabat. Ketika kepercayaan itu tumbuh, maka pesan-pesan moral yang kami sampaikan akan lebih mudah meresap ke dalam hati mereka,” ujar IPDA Indra di sela-sela kegiatannya.
Kurikulum Kehidupan: Dari Jalan Raya Hingga Pergaulan Sosial
Dalam sesinya yang komunikatif, IPDA Indra tidak membawakan materi dengan gaya ceramah kaku satu arah. Beliau menggunakan pendekatan interaktif yang memancing antusiasme siswa. Ada dua poin krusial yang menjadi sorotan utama dalam kunjungan kali ini, yang dinilai sangat relevan dengan tantangan Generasi Alpha saat ini:
1. Menanamkan “Mindset” Keselamatan Jalan Raya
Data kecelakaan lalu lintas sering kali melibatkan anak di bawah umur atau kelalaian orang dewasa yang membawa anak. Oleh karena itu, edukasi lalu lintas sejak SD adalah investasi nyawa.
IPDA Indra menekankan pentingnya penggunaan helm standar SNI, etika menyeberang jalan, dan bahaya berkendara sebelum cukup umur. Pesan ini disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun mengena: “Menjadi tertib bukan karena takut ada polisi, tapi karena kita sayang pada nyawa kita sendiri dan orang lain.”
Siswa diajak untuk menjadi “Agen Pelopor Keselamatan” di keluarganya. Mereka didorong untuk berani mengingatkan orang tua mereka jika lupa memakai helm atau melanggar rambu. Ini adalah strategi cerdas (Expertise), di mana anak dijadikan kontrol sosial bagi orang dewasa di sekitarnya.
2. Deklarasi Anti-Perundungan (Stop Bullying)
Topik kedua yang tak kalah mendesak adalah isu perundungan (bullying). Di era digital 2025 ini, bentuk perundungan semakin kompleks, tidak hanya fisik tetapi juga verbal dan siber.
IPDA Indra dengan tegas namun kebapakan mengingatkan bahwa perundungan adalah tindakan yang tidak hanya melukai perasaan teman, tetapi juga memiliki konsekuensi hukum dan sosial.
“Sekolah harus menjadi zona aman dan nyaman. Anak yang hebat bukanlah anak yang paling kuat memukul atau paling tajam lisannya, melainkan anak yang mampu menghargai temannya,” pesan beliau yang disambut tepuk tangan riuh para siswa. Pesan ini memperkuat komitmen sekolah untuk menciptakan lingkungan Zero Tolerance for Bullying.
Respons Sekolah: Kolaborasi untuk Karakter Unggul
Kepala SDN 2 Muara Ciujung Timur, Ibu Hj. Mutasiah, M. Pd, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif jemput bola yang dilakukan oleh Satlantas Polres Lebak.
Menurut beliau, pendidikan karakter tidak bisa hanya dilakukan di dalam ruang kelas oleh guru semata. Dibutuhkan sinergi lintas sektoral—melibatkan orang tua, masyarakat, dan institusi negara seperti kepolisian—untuk membentuk ekosistem pendidikan yang holistik.
“Kunjungan Pak Indra hari ini memberikan energi baru bagi kami. Pesan tentang disiplin, etika, dan tanggung jawab yang beliau sampaikan sejalan dengan visi misi sekolah kami. Ini adalah bentuk nyata penguatan Profil Pelajar Pancasila,” ungkap Ibu Hj. Mutasiah.
Beliau juga menambahkan bahwa selain isu lalu lintas dan bullying, pihak kepolisian juga menyisipkan pesan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan rasa bangga terhadap almamater. Hal ini penting untuk menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of belonging) siswa terhadap sekolahnya.
Dampak Jangka Panjang: Mencetak Generasi Emas
Kegiatan sosialisasi yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang meriah. Banyak siswa yang berebut bertanya, menunjukkan tingginya rasa ingin tahu dan keberanian mereka.
Apa yang terjadi pada Senin, 6 Oktober 2025 ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah langkah preventif dan edukatif. Ketika seorang polisi berdiri di depan siswa dan mengajarkan kebaikan, ia sedang menanam benih kedisiplinan yang buahnya mungkin baru akan kita nikmati 10 atau 20 tahun mendatang.
SDN 2 Muara Ciujung Timur dan Satlantas Polres Lebak telah menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi ini, diharapkan lahir generasi pelurus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga taat hukum, berempati tinggi, dan peduli terhadap keselamatan diri serta lingkungannya.
Kegiatan ini membuktikan bahwa sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan kawah candradimuka tempat karakter dan mentalitas juara ditempa. Terima kasih Satlantas Polres Lebak, teruslah menginspirasi!



